Senin, 22 Agustus 2011

PENGALAMAN HOROR NAIK KERETA API

 

Pernahkah kawan naik kereta api di indonesia untuk rute yang jauh ? kalau belum, sebaiknya cobalah sekali-sekali, terutama di akhir pekan. Kawan akan bertemu dengan miniatur pengelolaan negara yang serba kacau dan semrawut. Saya mengalaminya jumat 8 Juli 2011 kemarin. Hasilnya ? saya benar-benar merinding dan menjadi horor berkepanjangan. Mau tahu kisahnya ?
Karena suatu urusan yang sangat mendesak, saya mendadak harus menggunakan angkutan kereta api ke Jogja. Saya memilih kelas bisnis mengingat kelas ini berada di pertengahan kenyamanan antara kelas ekonomi (kereta dengan nama Progo) dan kelas eksekutif (kereta Taksaka).
Berdasar info dari seorang teman, loket penjualan karcis kereta senja utama Jogja pada hari keberangkatan akan dibuka pada jam 16.00 wib. Dengan semangat 45 saya sudah berada di seputaran stasiun senen ketika jarum jam menunjuk pukul 15.00 wib. Harapan saya, dengan hadir sejam lebih awal, kemungkinan memperoleh tiket dapat lebih besar. Sesampai di depan loket 15, saya terperangah, antrian sudah mengular sekitar 6 meter. Parahnya lagi khusus loket 15 ternyata ada dua barisan pengantri, sementara di loket lain (untuk kereta lain pula) hanya satu barisan.
Saya mengambil posisi walaupun hati mulai miris. Harapan muncul ketika seorang perwira polisi yang bertugas menjaga keamanan mendatangi barisan depan loket 15. Sebait pertanyaan tentang jumlah barisan antrian segera dilontarkan meski terkesan tidak serius. Massa yang mulai ramai menjawab sekenanya tanpa kesan serius pula. Pak polisi hanya terdiam dan berdiri tanpa tindakan apa-apa.
Loket kemudian dibuka pukul 15.30. Namun sayangnya, tepat ketika giliran saya berada di depan loket, petugas loket (yang seorang wanita cantik) dengan dingin dan tanpa ekspresi memberitahukan bahwa kursi telah habis. Saya ternganga dan merutuki kesialan sore itu. Apa boleh buat, keputusan harus segera diambil secara cepat sementara dibelakang, orang ramai mulai berteriak-teriak ketika menyadari kursi telah penuh.
Saya memutuskan mengambil tiket dengan tulisan kapital besar di kanan tengah, “TANPA_TMP_DUDUK. Inkosistensi PT. Kereta Api (PT. KA) mulai nampak disini. Dari pengeras suara diberitahukan bahwa tiket hanya akan dijual sampai pada batas 150 % dari jumlah kursi. Artinya ada 33,3 % dari total penumpang yang tidak memiliki kursi dan bebas menentukan pilihan hendak duduk dimanapun. Ya, dimanapun…karena memang tidak disediakan tempat buat mereka.
Tepat pukul 17.00 wib, saya telah berada kembali di stasiun senen. Saya melirik jam tangan, dan menyadari masih tersisa setengah jam sebelum kereta benar2 bertolak. Dengan pikiran yang bingung, saya menyusuri stasiun hingga sampai ke ujung utara. Mata tiba-tiba melihat sebarisan gerbong yang sedang parkir sekitar 100 meter dari tempat saya berdiri. Dari hasil bertanya pada penjual asongan, saya tahu kalau kereta itu adalah kereta yang akan saya tumpangi. Dan lagi, sebagian penumpang yang tidak memiliki nomor kursi seperti saya sudah mulai menaiki kereta itu. Sayapun tidak mau ketinggalan untuk naik lebih dulu. Sesampai di kereta, saya bingung, semua daerah yang bukan kursi telah terisi penuh. Dengan berat hati, saya ikutan menggelar koran yang baru dibeli tepat di bordes dekat sambungan gerbong. Dua orang penumpang lain seperti saya ikut-ikutan menggelar koran di seberang tempat duduk saya, tepat di depan toilet.
Ketika akhirnya kereta mulai menaikkan penumpang di stasiun senen, pilihan saya naik lebih dulu terbukti. Beberapa penumpang yang tidak memiliki nomor kursi hanya bisa berdiri diantara sambungan gerbong. Untuk berdiri saja mereka sudah bersyukur karena untuk duduk rasanya hampir tidak mungkin. Kelelahan, saya mencoba untuk tidur walaupun dengan posisi meringkuk seperti pistol akibat himpitan penumpang lain yang merangsek mengambil sebagian lokasi gelaran koran saya.
Kereta semakin bertambah padat ketika berhenti di stasiun jatinegara. Sementara saya sudah tidak bisa bergerak oleh himpitan penumpang lain. Gejolak perasaan antara kasihan, jengkel dan geli bercampur aduk menutup bibir dan mulut. Saya tersenyum melirik ke tulisan PT. KA di dinding atas kepala saya, “BORDES BUKAN TEMPAT PENUMPANG”. Kata BORDES diberikan penekanan dengan warna merah. Ah, bodo amat.
Saya tidak habis pikir, dengan kebijakan PT. KA yang memberikan harga sama antara penumpang yang duduk di kursi dengan penumpang yang tidak jelas tempat duduknya. Seharusnya kalau mau fair, penumpang tanpa kursi harus diberikan potongan harga sebagai tanda permohonan maaf atas ketidaknyamanan pelayanan.    PT. KA juga sangat aneh karena tidak memberikan tempat secara khusus pada mereka yang memiliki tiket tanpa kursi. Para penumpang itu dibiarkan menggeletak kesana kemari tanpa perhatian. Nampaknya, PT. KA menganggap orang-orang tersebut hanya sebagai deretan angka-angka yang menambah penghasilan dan bukan sebagai kesatuan jiwa dan raga yang juga memiliki nurani kemanusiaan.
Masih banyak lagi kesemrawutan yang saya alami, mulai dari petugas pemeriksa karcis yang langsung mengutip uang dari penumpang tanpa karcis lalu memasukkan ke kantongnya. Belum lagi pedagang kaki lima yang rasanya dipelihara oleh para pegawai PT. KA (karena mereka naik mulai stasiun senen hingga sampai di jogja). Atau kereta berhenti tiba-tiba dan diam dalam jangka waktu lama tanpa pemberitahuan pada penumpang. Sungguh terlalu banyak kesemrawutan di bawah dan di atas kereta. Malam itu benar-benar horor buat saya…entah sampai kapan berakhir…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar