Rabu, 16 November 2011

Diklat Specialised Management of Financial Crime Program 2

Mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) adalah suatu upaya untuk me-recharge pemikiran dan pola dalam bekerja. Diklat bagaikan oase di tengah kehausan rasa jenuh dan harapan nuansa lain dalam bekerja. Betapa tidak, setelah sekian lama terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang berjalan monoton, diklat menghadirkan suasana segar dan baru tentang berbagai perkembangan. Perkembangan sistem dan pola kerja institusi lain serta mekanisme kerjasama yang dapat dibangun diantaranya.
Bertempat dalam lingkungan Akpol Semarang, terdapat satu bagian wilayah yang dikelilingi dengan pagar listrik bertegangan tinggi. Namanya cukup mentereng, Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC). Ditempat tersebut pada 21 Oktober sampai 11 Nopember 2011, berlangsung Diklat Specialised Management of Financial Crime Program 2. Pesertanya datang dari Kejaksaan Agung, Kepolisian RI, KPK dan PPATK.
Sesuai dengan nama diklatnya, konsentrasi lebih ditujukan pada upaya mengembangkan sinergi antar berbagai institusi dalam penanganan kejahatan yang berhubungan dengan keuangan. Tulisan ini tidak membahas isi/materi Diklat (kelak akan dipaparkan pada kesempatan lain), melainkan pada hal-hal ringan yang terjadi pada saat Diklat tersebut.

1.    Tentang pelaksanaan diklat, Pemateri dan Penyelenggara
Diklat dilaksanakan selama dua minggu dengan jadwal yang sangat ketat. Pagi hari, Diklat dimulai pada pukul 08.30 hingga pukul 10.00. kemudian dilanjutkan dengan coffee break/tea time selama setengah jam. Setelahnya, pelajaran berlanjut hingga pukul 12.00, sebelum istrahat makan siang selama sejam. Pada pukul 13.00, pelajaran berlangsung kembali sebelum break pada pukul 15.00. Setelah break selama setengah jam, pelajaran diteruskan hingga pukul 17.00. Sesudahnya, proses pelajaran terhenti dan peserta dipersilahkan untuk mengisi waktu dengan berbagai kegiatan yang sifatnya pribadi.
Program ini dibiayai oleh Uni Eropa dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan kerjasama dan pengetahuan para penegak hukum dalam menangani tindak pidana yang berkaitan dengan keuangan.
Pada awal program, para peserta diajak penyelenggara membuat kontrak yang pada intinya adalah mengikuti pembelajaran dengan aktif, tertib waktu dan tidak menggunakan ponsel selama pembelajaran. Ternyata pola ini efektif selama program berlangsung karena peserta yang diberi tanggung jawab dapat benar-benar melaksanakan klausul kontrak tersebut tanpa harus dikejar-kejar. Terhadap hal ini, penyelenggara memberikan pujian secara khusus.
Tidak seperdi Diklat yang lain, penyelenggara meniadakan pembelajaran malam. Sebagai gantinya, para peserta dapat memasuki ruang komputer dan mendengarkan paparan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pencucian uang atau teknik-teknik penyidikan dari komputer, sekaligus mengisi soal-soal ujian pada bagian akhir. Keberhasilan menjawab soal-soal ujian ini (minimal 70 % benar) akan menghasilkan satu sertifikat untuk setiap modul.
Pemateri didatangkan dari Bank Umum, PPATK, KPK, Polri, Kejaksaan, Akademisi UI dan Akuntan dari Bank Dunia. Materi telah dirancang sedemikian rupa, berlangsung secara teratur dan sistematis, berawal dari Pola kerja dan hambatan yang dialami para pebisnis perbankan. Sesudahnya, pihak PPATK masuk memaparkan tentang Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan sebelum dieksekusi oleh pihak Polri, Kejaksaan dan KPK.
Penyelenggara yang berperan mendampingi para peserta selama Diklat adalah orang yang secara khusus didatangkan dari Austrac Australia (PPATK-nya Australia). Kendala bahasa yang berbeda dapat dipecahkan oleh pihak JCLEC dengan menyertakan seorang interpreter setiap kali pemateri/penyelenggara asing memulai pembicaraan.

2.    Tentang makanan
Satu hal yang menarik dalam program ini adalah berkaitan dengan makanan yang sangat istimewa. Makanan di set up oleh para ahli gizi berkaitan dengan asupan kalori yang dibutuhkan peserta dalam mengikuti Diklat. Variasi makanan juga sangat diperhatikan oleh para chef yang sangat handal. Berbagai jenis makanan disajikan dengan cita rasa eropa namun tetap menggunakan bahan-bahan lokal. Hampir seluruh peserta Diklat memuji rasa dan variasi makanan selama di JCLEC. Hasilnya adalah para peserta dapat mengikuti pembelajaran dengan tenang tanpa merasa kelelahan. Satu-satunya pengecualian adalah pada materi setelah makan siang, para peserta sering dilanda kantuk akibat suasana siang dan perut yang kekenyangan.
Selain itu, sepanjang penyelenggaraan Diklat, air minum kemasan dalam botol, minuman berupa teh atau kopi tersedia secara gratis. Setiap peserta, pemateri ataupun penyelenggara dapat memperolehnya setiap saat bahkan hingga tengah malam ataupun subuh dinihari.

3.    Tentang fasilitas
Dalam penyelenggaraan diklat, foto copy materi selalu disediakan penyelenggara sebelum atau setelah materi disajikan. Foto copy yang disediakan segera ini melengkapi fasilitas dalam ruang kelas ber AC yang berisi Layar proyektor dan dua televisi flat yang diletakkan di dinding dalam ruangan.
Demikian pula suasana kamar dan berbagai fasilitas penunjangnya yang setara dengan kamar dalam hotel. Peserta diberikan keleluasaan untuk menempati setiap kamar sekaligus menikmati jasa laundry setiap harinya.
Dalam kompleks JCLEC juga tersedia ruang-ruang kecil untuk diskusi kelompok. Setiap ruangan tersebut telah pula dilengkapi dengan komputer, TV Flat yang berkoneksi dengan komputer serta berbagai fasilitas pendukung pembelajaran lainnya. Setiap ruangan (disebut ruang sindikat) dapat dimonitor melalui CCTV dari ruang kontrol sehingga nampak bagaimana para peserta melakukan diskusi ataupun hanya sekedar ber-SMS ria.

Sebenarnya masih banyak hal-hal menarik di JCLEC yang dapat dijadikan contoh bagi pelaksanaan Diklat di lembaga lain (untuk semua ini big thanks pada Pak JJ dan Mbak Yuni yang telah berjuang keras mewujudkan yang terbaik demi kenyamanan dan ketenangan para peserta selama pembelajaran)

Sabtu, 17 September 2011

Fenomena Skor-skor Mencolok di Liga Eropa

 
Tadi malam (17/09) Barcelona melumat Osasuna dengan skor mencolok 8-0. Beberapa minggu yang lalu, Real Madrid mengalahkan Zaragoza dengan skor 6-0, sedang Barcelona menghempaskan Villareal dengan skor 5-0. Berpindah ke liga Jerman, Muenchen mengukuhkan dominasinya atas kemenangan terhadap Hamburg dengan skor 5-0 dan Freiburg 7-0. Sedangkan di ranah Inggris, Manchester United menghancurkan Arsenal 8-2,  serta Bolton 5-0 dan Manchester City menang atas Tottenham 1-5, serta Swansea 4-0
Fenomena apakah gerangan yang sedang terjadi di daratan eropa ? Mengapa skor-skor mencolok mudah ditemukan pada musim kompetisi saat ini ? Apakah ini merupakan suatu trend yang akan terus berlanjut ataukah hanya fenomena sesaat saja ?
Liga Eropa (European League) adalah liga paling atraktif di seluruh dunia. Publisitas yang berlebihan, kondisi keuangan yang jor-joran ditambah gemerlap polah para pelaku industri sepak bola menjadikan kompetisi di belahan bumi tersebut menjadi incaran dan tujuan para pemain, pencinta ataupun penggila bola dari manapun. Tidak ada publisitas media yang melewatkan berita tentang kompetisi liga-liga di eropa. Apalagi pada hari sabtu dan minggu ketika kompetisi sedang bergulir, hampir semua kolom berita olahraga akan memberikan porsi besar bagi liputan tentang sepak bola eropa.
Sayangnya, kompetisi ini menurut saya sedang memasuki titik balik. Skor-skor yang tidak berimbang sekarang sedang mendominasi pemberitaan.  Mungkin pada tahap awal penonton akan merasakan kekaguman yang sangat pada hasil-hasil pertandingan itu. Namun lama-kelamaan, penikmat bola perlahan-lahan akan mengutuk partai-partai yang sejak awal sudah diyakini akan berjalan tidak seimbang. Tidak ada lagi rasa deg-degan menanti hasil yang mengharu biru. Tidak ada pula rasa penasaran menunggu akhir pertandingan ketika di satu pihak ada yang tertawa dan pihak lain ada yang menangis tersedu sedan.

Penyebab lahirnya skor-skor mencolok

Ada beberapa alasan yang mungkin bisa menjadi bahan renungan, mengapa skor-skor mencolok saat ini mudah ditemui di panggung sepakbola eropa. Setidaknya ada 6 (enam) hal yang menurut saya, demikian penting (tentu tanpa mengurangi rasa hormat pada analisis anda yang mungkin berbeda)

1.     Besaran dana klub yang tidak berimbang.
Sejatinya sebuah klub memiliki pola pemasukan dan pengeluaran dana yang disiplin. Dengan sistem pengelolaan keuangan yang mapan, sebuah klub akan menciptakan kondisi keuangan yang sehat. Dengan kondisi yang sehat pula, klub akan mampu berbelanja pemain hebat yang diharapkan menjadi pemain dalam permainan. Kehadiran pemilik-pemilik modal kelas wahid (utamanya dari timur tengah) selanjutnya merubah peta persaingan di industri bola. Dengan kondisi keuangan yang bagaikan sumur tanpa dasar, mereka mampu membeli pemain mana saja dan menciptakan klub yang meraksasa dengan semua lini dipenuhi pemain top. Dalam hal ini, Manchester City dan Chelsea bisa menjadi contoh yang tepat
Selanjutnya bandingkan dengan klub-klub semenjana atau klub-klub yang hanya ditopang oleh dana yang pas-pasan. Klub-klub itu hanya akan bergantung pada pemain yang kualitasnya rata-rata. Pola permainan juga akan terasa monoton karena pemain yang demikian hanya akan bermain dengan permainan yang ala kadarnya pula.
2.     Manajer atau pelatih yang berkualitas
Dewasa ini ilmu kepelatihan sepakbola sesungguhnya bukan ilmu yang tersembunyi seperti dahulu. FIFA dan seluruh percabangannya terus-menerus mentransfer ilmu sepakbola kepada seluruh warga dunia. Kursus-kursus kepelatihan dan ujian kompetensi/sertifikasi pelatih juga makin marak. Artinya, setiap pelatih bola akan memiliki basis ilmu kepelatihan yang seragam dan sama. Dalam kondisi demikian, kualitas seorang manager/pelatih akan ditentukan oleh faktor ‘seni” yaitu kreatifitas menciptakan pola permainan dalam menyerang atau bertahan. Manager/pelatih kemudian tidak memperhatikan lagi faktor usia. Setiap orang dapat menjadi pelatih sukses sepanjang memiliki naluri kreatif dalam menghadirkan kemenangan. Lihat saja Villa Boas (Chelsea) yang sukses membawa Porto Juara UEFA Cup 2011 di usia 30-an, Pep Guardiola yang sukses di usia 40-an atau Morinho di usia 50-an dan Sir Alex Fergusson pada 60-an.
3.     Fasilitas setiap klub
Kemampuan setiap klub memanage pemain atau pengelola permainan juga menjadi faktor yang kelak membedakan hasil pertandingan. Lihat saja klub-klub elit seperti Milan, Barcelona atau United. Semua memiliki fasilitas yang luar biasa dalam mengelola pemain ataupun aset-aset klub. Pihak-pihak yang terlibat bukan hanya pekerja yang mampu melakukan pekerjaannya melainkan direkrut dari ahli-ahli profesional nomor satu. Para terapis, ahli kesehatan, ahli kejiwaan sampai ahli motivasi bahu-membahu merawat para pemain agar menampilkan performa yang maksimal. Setiap pemain dimonitor dengan berbagai perangkat pengukuran yang detail untuk melihat kesiapan otot, mental dan pendukung lainnya dalam memulai pertandingan.
4.     Kebijakan transfer dan Persiapan pramusim yang sempurna
Kebijakan transfer dan persiapan menjelang kompetisi dimulai juga menjadi faktor pembeda. Setiap klub memiliki kebijakan transfer yang berbeda, meskipun kebanyakan didasarkan pada pola yang akan digunakan pelatih dalam kompetisi. Dengan pola yang sudah tertata rapi, para manager/pelatih akan membawa anak asuhnya menuju peak performance (penampilan puncak) ketika kompetisi berlangsung.
5.     Fanatisme pemain ke 12
Tim-tim dengan sejarah yang panjang biasanya secara tidak langsung menciptakan penggemar yang fanatik. Masih ingat dengan para hooligan di Inggris atau kelompok-kelompok ultras di Italia ? meskipun pada beberapa hal kelompok ini sering membuat onar, tetap tidak bisa dipungkiri bahwa semangat yang diletupkan di bangku penonton dapat menjalar ke dada setiap pemain di tengah lapangan.
6.     Dukungan sarana dan prasarana dari federasi sepak bola dan negara
Fasilitas permainan yang nyata seperti stadion, sarana transportasi ataupun yang tidak nyataseperti sistem pengamanan, sistem kompetisi yang rapi dan hierarki permainan yang teratur di tingkat antar klub dan negara juga menjadi pendukung permainan yang penting.
Setiap orang yang terlibat dalam permainan ini baik di dalam maupun di luar lapangan tahu dan sadar akan fungsinya masing-masing. Setiap orang menyadari bahwa keberlangsungan permainan ini tergantung dari seberapa baik setiap orang menjalankan perannya.

Pertandingan dengan skor-skor yang mencolok ini biasanya hanya berlangsung di awal musim. Selanjutnya para klub yang mengikuti beberapa kompetisi (liga, piala negara atau piala di tingkat federasi eropa/Champion dan UEFA Cup) akan terjerembab ke dalam problem klasik yaitu kelelahan dan konsistensi. Namun demikian, kalau para klub dapat melewati hadangan kedua hal itu, maka berarti lonceng kematian kenikmatan kompetisi eropa akan segera datang. Kelak kita akan melihat kompetisi eropa bagaikan Eredivisie di Belanda yang hanya menjadi rebutan antara Ajax, Feyenoord dan PSV.
Tentu saja semua pihak berharap bahwa kompetisi di setiap liga eropa tidak hanya melibatkan klub-klub tertentu. Seperti di Spanyol, dengan race of two horses-nya antara Barca dan Madrid, The big four di Inggris atau derbi de la madonina antara Inter dan Milan di Italia. Pertandingan akan berlangsung semarak dan memancing rasa penasaran kalau banyak klub yang memiliki kemampuan setara dan saling mengalahkan. Apalagi kalau ditambah dengan sedikit bumbu taruhan traktir makan siang keesokan harinya antara sesama teman kantor.
Salam dari Ragunan.

Minggu, 04 September 2011

Pembunuhan Tokoh Politik (Inspirasi dari The Day Of The Jackal)

Kita tidak tahu apakah Nazaruddin sedang berhalusinasi, membumbui cerita ataukah mengabarkan kebenaran ketika di jaringan Skipe menyatakan bahwa ia baru saja lolos dari percobaan pembunuhan. Dalam dunia komunikasi yang serba kompleks seperti sekarang, kebenaran kadangkala hanya diartikan seberapa banyak ia dikonsumsi publik dan terus-menerus disegarkan oleh media. Pembuktian sendiri sudah dianggap sebagai hal terpisah yang dimaknai tidak berhubungan dengan kejadian awal.
Pembunuhan (dalam arti yang nyata), oleh sebagian orang masih dianggap sebagai metode paling efektif untuk menyelesaikan suatu urusan. Bahkan dalam dunia politik, pembunuhan tidak hanya merubah kebijakan politik negara tetapi juga sampai  membelokkan nasib suatu bangsa.
Siapa yang menyangka karir cemerlang seorang tokoh muda seperti John F. Kennnedy harus berakhir di ujung peluru ? Simak pula rentetan pembunuhan yang terjadi pada klan Nehru yang bermula dari Jawaharlal Nehru, anaknya Indira Gandhi hingga cucunya Rajiv Gandhi. Atau pada kasus Yitzhak Rabin dan Benazir Bhutto yang tewas ketika sedang menapak kembali kesuksesan yang pernah mereka raih. Dari khazanah dalam negeri kita juga mengenal beberapa. Pembunuhan terhadap tokoh-tokoh politik serial Mpu Gandring mulai dari Tunggul Ametung, Ken Arok (Sri Rajasa), Anusapati hingga Tohjaya. Pendeknya, sejak zaman dulu, pembunuhan tokoh-tokoh politik bukanlah hal baru.
Terkait dengan hal ini, terdapat sebuah novel menarik yang menggambarkan bagaimana proses dan berlikunya upaya pembunuhan terhadap seorang tokoh politik. Buku itu ditulis oleh Frederick Forsyth dengan judul The Day of the Jackal. Oleh penerbitnya Arrow Books, London, buku ini diklaim sebagai salah satu dari 100 novel kriminal terbaik sepanjang sejarah. Sebagai jurus pemasaran, penerbit novel ini juga menyatakan bahwa novel ini telah mengilhami berbagai peristiwa serupa di berbagai belahan dunia. Yigal Amir, seorang militan ekstrem kanan membunuh Yitzhak Rabin PM Israel pada 1995 kabarnya karena terinspirasi buku ini.
Sebenarnya alur cerita novel ini sangat sederhana. Ia hanya menggambarkan bagaimana seorang pembunuh profesional direkrut oleh suatu kelompok politik untuk membunuh tokoh politik terkemuka yang menjadi Presiden Perancis, Charles De Gaulle. Hal yang luar biasa dan digarap dengan sangat detil oleh Forsyth adalah liku perjalanan sang pembunuh dengan berbagai cara dan modus operandi yang dilakukan sebelum ia melakukan pembunuhan. Ketekunan menganalisis setiap detil cerita menjadikan novel ini (klaim dari penerbit juga) seringkali ditiru dengan sukses oleh kelompok penjahat. Hal-hal kecil seperti pemilihan jenis senjata, cara penyimpanan, pelatihan hingga pemalsuan paspor dijelaskan dengan sangat lengkap dan runtut nyaris tanpa cela.
Novel yang sampul depannya bergambar siluet Jenderal De Gaulle dengan topi militernya (sekilas mirip pak Harto pada film G-30 S) juga menganut pakem lama dalam dunia pustaka. Pola lama itu diantaranya adalah bahwa penjahat selalu selangkah di depan aparat, tidak ada kejahatan yang sempurna serta kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan.
Kelemahan novel ini adalah bangunan pengertian tentang landasan pembunuhan atas dasar politik kurang mendapat sentuhan yang serius. Pembaca hanya diberi petunjuk bahwa kebijakan De Gaulle dalam kasus pemberian kemerdekaan terhadap Aljazair tidak disetujui oleh seluruh kekuatan politik Perancis pada saat itu.
Pembunuhan, masa kini di Indonesia.
(Foto : Kompas/Suhartono)
Pembunuhan terhadap tokoh-tokoh politik di Indonesia relatif sepi atau hampir tidak ada yang menonjol sepanjang orde baru. Pada zaman orde lama, Presiden Soekarno beberapa kali mendapat percobaan pembunuhan meski selalu gagal. Apakah saat ini, 66 tahun setelah merdeka, tradisi pembunuhan terhadap tokoh-tokoh politik telah berakhir ? jawabannya, mungkin belum. Alasannya sederhana, pengamanan terhadap pejabat tinggi atau tokoh-tokoh partai/masyarakat selalu dilakukan secara terbuka melibatkan pengerahan pasukan pengamanan secara menyolok. Pejabat kita masih dicekam ketakutan akan dibunuh atau dihabisi bahkan untuk alasan yang tidak jelas.
Padahal mekanisme pembunuhan jaman sekarang juga telah turut menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Kalau seorang tokoh politik hendak dihabisi karir politiknya, sejarah negara ini menyediakan berbagai modus operandi yang dapat dikenali dengan mudah. Ada yang video asusilanya di obral habis melalui media, ada yang tiba-tiba terjerat kasus untuk sesuatu yang terjadi puluhan tahun sebelumnya, ada yang diberi jabatan tertentu lalu dalam jabatan itu dikecam berramai-ramai, bahkan ada pula yang mendadak mendapat penugasan ke tempat lain yang jauh dari tempatnya beraktifitas.
Berbagai teori konspirasi kemudian tumbuh di tengah masyarakat. Mulai dari Teori pengalihan kasus, Teori pencitraan sampai Teori persiapan pemilihan pejabat publik. Masyarakat tentu saja semakin cerdas memberikan penilaian. Masyarakat tahu siapa saja yang sedang “dibunuh” atau siapa saja yang sedang “dikarbit” untuk menduduki jabatan publik.
Jadi, pembunuhan tidak perlu dilakukan kalau hanya untuk menghentikan karir seseorang. Cukup dimatikan secara perdata, sosial atau bahkan politik maka orang tersebut akan mati dengan sendirinya.

Selasa, 23 Agustus 2011

SAHABAT AZHARI DAN REFORMASI BIROKRASI

Saya seringkali melakukan wisata intelektual melalui kunjungan ke toko-toko buku. Hal ini biasa saya lakukan sejak masa mahasiswa. Ada kepuasan tersendiri memandang tumpukan buku di rak yang tersedia sambil membaca judul buku yang memang sengaja dipampangkan. Terkadang senyum melihat judul buku-buku itu, terkadang pula meraih lalu membaca bagian pengantar yang sering diletakkan pada sampul belakang.
Minggu lalu wisata intelektual itu kembali saya lakukan ke beberapa toko buku besar dalam wilayah Jogjakarta. Pada sebuah toko buku di jalan Kaliurang, saya menemukan sebuah buku berjudul “Mereformasi birokrasi publik Indonesia : Studi perbandingan intervensi pejabat politik terhadap pejabat birokrasi di Indonesia dan Malaysia.” Sebenarnya tema-tema seperti ini bukan tema yang terlalu menarik bagi saya. Hanya saja ada suatu hal yang membuat buku ini berbeda. Buku ini ditulis oleh seorang sahabat saya yaitu Dr. Azhari, S.STP. M.Si, Rektor Universitas 19 November Kolaka. Sahabat ini juga baru usai menunaikan tugasnya mencalonkan diri sebagai calon Bupati Buton (meskipun dinyatakan kalah oleh KPU dan “pertarungan” berpindah ke MK).
Dahulu ketika berada di Kolaka, kami adalah sebagian kecil warga Kolaka yang dipersatukan oleh kesamaan kultur dan etnis Buton. Setiap bertemu, kami selalu menyempatkan diri ngobrol dalam bahasa buton (pogau wolio) sembari mengingat daerah asal kami yang terpisahkan laut dan gunung dengan Kolaka. Dalam berbagai pertemuan itu, Azhari sering bercerita tentang tema-tema birokrasi yang menjadi bahasan dalam penyusunan disertasi tingkat doktoralnya di UGM. Ternyata kemudian disertasi kawan saya itu diterbitkan oleh Pustaka Pelajar pada Januari 2011 dengan judul sebagaimana saya sebutkan di atas.
Buku ini langsung “menohok” ketika membaca pengantar pada bagian belakang cover yang mengutip koran Kendari Pos beberapa waktu setelah Nur Alam menjabat Gubernur Sultra : “…Sapu bersih. Itulah kata yang pantas untuk menggambarkan perombakan kabinet yang dilakukan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam, SE, kemarin. Tak hanya mengubah sebagian tetapi Nur Alam melakukan perombakan total. Alhasil, seluruh pejabat Eselon II era Gubernur Ali Mazi sebanyak 85 orang dinonjobkan SK Gubernur No. 89/2008…”.
Meskipun Azhari adalah kandidat yang pernah berkompetisi melawan Nur Alam pada panggung pilkada Propinsi Sultra (meskipun juga kalah), kutipan koran Kendari Pos di atas saya yakin jauh dari kesan parsial yang belakangan ini merasuk dalam kalangan cendekiawan Kampus. Azhari sebenarnya sedang menghadirkan sesuatu yang sering terjadi di tengah-tengah kita. Hal ini sangat lekat dengan keseharian birokrasi di daerah kita. Terkadang kita menyadari hal itu meski kemudian kita dengan segera pula melupakannya. Kesalahan-kesalahan demikian seringkali menguap tanpa solusi.
Buku ini kemudian menjadi menarik karena berusaha menjelaskan bagaimana suatu intervensi terhadap birokrasi oleh seorang pejabat politik dilakukan. Seorang pejabat publik yang bersumber dari partai politik tanpa pengalaman apapun dalam dunia birokrasi tiba-tiba duduk sebagai penguasa tertinggi dunia pemerintahan di daerah. Bisa dibayangkan kalau seseorang yang tidak pernah menghirup hawa birokrasi atau meminum air perasan kepegawaian daerah ujug-ujug menjadi pimpinan pada level teratas.
Yang terjadi kemudian adalah “sapu bersih”. Mekanisme mutasi, promosi dan degradasi ditentukan oleh faktor like dan dislike. Baperjakat lalu menjadi sekedar simbol bahwa penilaian telah dilakukan meski penilaian sebenarnya dilakukan di ujung telunjuk sang pemimpin.
Menurut Azhari, berbagai persoalan birokrasi yang terjadi di Indonesia, khususnya di Prop. Sultra tidak terlepas dari tiga persoalan mendasar yang melingkupinya, yaitu Sistem Politik, Budaya birokrasi dan Manajemen Birokrasi.
Padahal sebenarnya kalau kita mau belajar, birokrasi di beberapa negara telah memberikan pelajaran mahal betapa pengelolaan manajemen pemerintahan yang lebih berorientasi sentralistik pada top leadernya memberikan sumbangsih nyata ketidakpercayaan masyarakat atas kerja-kerja pelayanan publik. Sebagaimana Lord Acton pernah berujar : “Power tends to corrpt, absolut power corrupt absolutely”. (Kekekuasaan cenderung untuk korup, kekuasaan absolut, pastilah korup)
Idealnya, setiap pemimpin meneladani mantan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang pernah berujar : “My loyalty to my party ends where my loyalty to my country begins”. (kesetiaanku pada partai berakhir ketika kesetiaanku pada negara bermula).
Satu hal yang bagi saya menjadi kelemahan dari buku ini adalah kurangnya eksploitasi terhadap kutipan “sapu bersih” dari koran Kendari Pos yang sengaja diletakkan pada cover belakang untuk memantik keingintahuan pembaca. Dalam konteks politik lokal Sultra, bagaimana relasi antara daratan dan kepulauan dapat merasuk ke dalam sendi-sendi birokrasi dan memutus dengan kejam karir kepegawaian seseorang yang dibangun bertahun-tahun sebelumnya.
Terlepas dari kelebihan dan kekurangan buku ini, kawan saya Azhari telah memberikan sumbangsih nyata pada bangsa ini termasuk pada Prop. Sultra. Sumbangsih ini akan terekam jelas hingga tahun-tahun mendatang. Bahkan boleh jadi jejak penalaran seperti ini akan lebih dikenang dan diingat orang ketimbang sekedar menjadi Gubernur atau Bupati namun minim prestasi.
Terhadap sumbangan pemikiran yang sangat bernilai ini, saya mengucapkan Selamat buat kawan saya Dr. Azhari, S.STP. M.Si.

Senin, 22 Agustus 2011

METODE PERINGATAN PROKLAMASI YANG UNIK DI KAMPUNG KAMI


Bagaimana anda atau lingkungan anda meresapi nilai-nilai proklamasi yang diikrarkan 66 tahun yang lalu ? Mungkin anda akan menjawab dengan mengadakan upacara bendera setiap tanggal 17 Agustus, perlombaan panjat pinang atau sederet kegiatan massal lainnya. Sah-sah saja, toh setiap orang punya cara sendiri-sendiri memperingati dan memaknai hari bersejarah dalam kehidupan bernegara kita itu.
Namun, dari sekian cara atau kegiatan yang rutin dan biasa dilaksanakan tersebut, di tempat saya memperoleh Kartu Tanda Penduduk di Dusun Watuadeg Desa Wukirsari Kec. Cangkringan daerah kawasan merapi ada hal yang unik. Keunikan itu baru saya jumpai kemarin ketika penduduk setempat melaksanakan kenduren dalam rangka selikuran (CMIIW) untuk memperingati malam kemulyaan lailatul Qadr. Kenduren merupakan media atau sarana warga dalam mengungkapkan berbagai rasa pada sang Pencipta. Ada kenduren sebagai syukuran atas suatu kenikmatan atau kebahagiaan ada pula kenduren dalam arti permohonan tolak bala atau ungkapan rasa kesedihan. Rasanya sedikit unik bagi saya yang lahir dan dibesarkan di pedalaman Sulawesi (Pulau Buton) bahwa ungkapan kesedihan diekspresikan dengan saling berbagi bahan makanan pada tetangga sekitar dan (tentu saja) doa bersama
Lazimnya dalam setiap kenduren, disediakan bahan makanan sehari-hari dalam sebuah wadah. Bedanya, kalau dalam kenduren yang lain, wadah berisi makanan itu disediakan sang empunya hajat, dalam kenduren selikuran, bahan makanan disediakan oleh setiap warga. Setiap rumah tangga kebagian membawa sebuah wadah berisi makanan yang selanjutnya diantarkan ke rumah Ketua RT.
Nah, keunikan yang saya maksud adalah ketika mengantarkan bahan makanan, para warga yang sebagian besar  adalah petani kebanyakan membawa dua wadah berisi makanan. Dari hasil tanya-tanya kepada para tetangga (dengan pemahaman bahasa jawa yang masih minim), saya mendapat jawaban mencengangkan. Kalau satu wadah tersebut dimaksudkan untuk tradisi selikuran, maka wadah yang satu lagi adalah untuk memperingati 17 Agustusan atawa hari proklamasi.
Dalam pembacaan doa yang dipimpin oleh seorang pemuda alumni pesantren setempat (mas Jono), terselip doa yang dinukil dari Surat Al Qadr dan doa agar tanah Indonesia menjadi tanah yang “gemah ripa loh jinawi”. Permohonan pada sang Maha Pemberi itu kemudian diakhiri dengan surat Al Fatihah dan salam-salaman para peserta kenduren. Selanjutnya masing-masing pulang dengan membawa wadah makanan yang dibawanya kembali ke rumah
Sebagai orang seberang, tradisi itu sangat menarik perhatian saya. Selama ini saya menyaksikan peringatan Proklamasi lebih banyak dilaksanakan secara struktural yang dikomandoi pemerintah. Berbagai kegiatan dilaksanakan dengan sokongan dana dari anggaran pemerintah atau hasil penarikan dana dari warga setempat. Kegiatan lebih banyak dilaksanakan secara hura-hura, massal dan minim nilai-nilai edukasi. Kegiatan-kegiatan itu bahkan mulai terkesan sebagai rutinitas yang membosankan.
Namun disini, tempat dimana gunung merapi berdiri dengan gagah, saya mendapat pelajaran dan hikmah yang sangat dalam. Warga berusaha menginternalisasikan nilai-nilai proklamasi dalam suatu doa dan perenungan yang sakral. Warga Cangkringan melakukannya dalam sunyi, tenang, damai dan penuh makna. Jauh dari hingar bingar kepentingan politik, pencitraan atau kesan yang wah.